Deng, sekali lagi !!!

Oleh : Zulkarnain Musada. Sumber (Foto; Dok. Pribadi).


Saya menduga Asrama 2 Kepmi Bone "Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Bone", adalah salah satu tempat yang bisa menangkap perasaan generasi Kab. Bone saat dulu dan sekarang. 

Setidaknya, begitu yang saya pikirkan di suatu hari selepas senja, dan Asrama itu baru saja selesai disirami hujan. 

Sekitar sebulan saya tinggal di Asrama 2 Kepmi Bone. 

Dulu saya kenal Asrama 2 dan Kepmi Bone lewat cerita senior-senior dan kawan-kawan. Dari kisah Arung Palakka, Mappanyukki sampai La Pawawoi. 

Sebuah rentetan tembakan perjalanan sejarah di Bumi Nusantara, berkisah keberanian yang dibaluti kepalan tangan kebenaran. 

Meletusnya tali persaudaraan, perlawanan hingga diikat perkawinan.

Tidak ketinggalan gadis-gadis Bone yang manja dan mengasikkan diajak bicara. Lembut dalam bertutur kata dengan aksennya yang kental. 

Gadis Bone juga sebagai gambaran wajah perempuan Sulawesi Selatan yang teguh dalam kehidupan. Konon perempuan Bone kecantikannya tiada lawan. 

Senyuman yang khas membuat hati terperikat hingga setiap hari bisa-bisa baperan. 

Gadis Bone yang eksotis, melankolis sekaligus modern.

Dari dulu hingga akhir-akhir ini saya berteman dengan mahasiswa Bone. Tapi, negeri itu baru sekali saya kunjungi. 

Kadangkala hidup di perantauan, banyak berkenalan dengan manusia dan alam itu penting, untuk membantu pikiran dan hati tetap solid. Sebuah ritual yang sering saya lakukan ketika mengeja gudang pengalaman di perantauan.

Ada getaran tersendiri ketika berkenalan dengan wajah-wajah baru dan setiap putaran perkenalkan seperti menggerakkan kosmos kecil pada jiwa dan lalu menyadari bahwa diri ini hanya sebutir tulang di alam raya perantauan. 

Dan dari perkenalan itu terus berotasi bersama kehidupan dan ia telah merekam suka, duka, melengserkan keangkuhan manusia yang seakan ingin menguasai segalanya.

Berjumpa dengan kawan-kawan Asrama 2 Kepmi Bone ini akan tetap sebagai butir-butir batu jasper dan kayu oud. Dengan vibrasi doa-doa, kepasrahan, dan harapan yang lepas dan ditangkap pada setiap momentum.

Simpul perkenalan senantiasa sebagai saksi bagi mereka yang mencari cinta dan kedamaian. Ia adalah puisi yang tak terucapkan dan diam dalam untaian tembok-tembok kemanusiaan.

Sore tadi, seorang anak muda yang bermukim di Asrama 2 Kepmi Bone sedang berbangga hati. Ia baru saja selesai menunaikan ibadah akademisnya. Ya. Seminar hasil penelitian.

Saya ikut melihat bagaimana kisah heroik anak muda itu berjuang. Keringat membaca jurnal, hingga menelaah catatan koreksi dari pembimbing. Ia teguh dan terus belajar. 

Saya terkesima, dan sedikit berkhayal. Beginilah raut perjuangan generasi milenial di abad ini. 

Menghadapi zaman yang menggelinding keras, di tengah-tengah arus digital yang membuat mereka bisa berkarya walau hanya 'rebahan'. 

Tapi, tetap saja mereka tidak lupa seperti apa model manusia pemegang mandat peradaban luluh lantak melawan zaman.

Ya perjuangan itu, sekali lagi Bung. 

Momen ini harus di 'jepret' layar kamera. Menunggu toga tertancap dan merayakan kemenangan mungil di langit-langit sore. Menjaring apa yang diseret waktu. Dan kenangan yang dilepaskan semesta.

Hingga suatu ruang. Kita tetap berdiri. Kita pun menua. Sendiri-sendiri.

Ya Deng, sekali lagi. Hingga selamanya.

Komentar

Postingan Populer