OKSIGEN MUDIK

Oleh : Zulkarnain Musada. Foto; (dok. Pribadi).



Tahun 1948, Indonesia yang baru saja di merdekakan terus berada pada kecamuk perpecahan, antara makhluk pergerakan tak usai bersengketa, begitupun ancaman dari luar yang ingin kembali menguasai negeri kepulauan. Pada kondisi itu, Presiden Soekarno mengundang tokoh NU (Nahdlatul Ulama) yang menjadi patron yakni KH Wahab Chasbullah dan dimintai pendapatnya.


Kiayi Wahab menawarkan agar segera dilaksanakan silaturahmi yang melibatkan semua unsur anak bangsa, Bung Karno menyetujuinya. Tapi, Bung Karno kurang tertarik dengan istilah "silaturahmi" yang dianggapnya kurang greget dan tak memiliki efek psikologis yang kuat. Kiayi Wahab lalu menyuguhkan "Halalbihalal" dan langsung diterima Bung Karno.


Halalbihalal tentunya sebagai diksi baru yang masyarakat Arabnya sendiri belum tentu familiar dengan kalimat itu. Kiayi Wahab dengan sensitivitas politik keagamaannya yang telah matang menyodorkan istilah itu dengan makna penguatan simpul solidaritas guna terbangunnya langkah awal politik "saling menghalalkan" antara rakyat dan elite anak bangsa yang bertingkai.


Bahwa "persekutuan" (ukhuwah) jauh lebih penting ketimbang "persengketaan" (mufaraqah). Pilihan cara merebut kemerdekaan dan aliansi politik boleh saja berbeda, tapi perbedaan itu tidak kemudian mengorbankan kepentingan bangsa dan negara. Agama mungkin tidak sama, tetapi keragaman pilihan keyakinan tidak menjadi alasan saling menista satu dan lainnya.


Saat itulah, halalbihalal menjadi tradisi keagamaan khas Indonesia. Menjadi semacam ekspresi ritus Islam Nusantara yang tidak akan ditemukan pada belahan dunia muslim lainnya. Bahkan, hari ini nyaris tidak ada orang yang tidak paham arti yang melekat pada halalbihalal yang biasa diselenggarakan selepas Idul Fitri.


Sekarang, halalbihalal diselenggarakan di kantor juga rumah dinas pemerintahan dan oleh masyarakat luas. Halalbihalal tidak hanya berdimensi kultur sebagai denyut politik kewargaan yang lapang dan non-diskriminatif, tapi juga menjadi lokus alamat agar merekatkan nadi-nadi bernegara (struktur) sebagaimana "asbabun nuzul" halalbihalal itu sendiri.


Oksigen Mudik
Dalam konteks kultur kita, ternyata halalbihalal itu tidak hanya dilakukan bersama mereka yang masih hidup, tetapi juga dengan leluhur dan sanak handai tolan yang telah wafat. Mudik menjadi tradisi yang menegaskan betapa kita adalah masyarakat yang tidak mudah dan tidak akan mungkin melupakan asal kampung halaman dan pertalian darah.


Pulang kampung (mudik) bukan saja dimaknai secara geografis, tetapi berhubungan dengan indeks spritual, bertalian dengan mengunjungi handai tolan yang sudah wafat dan dikirimi fatihah serta ayat-ayat pilihan.


Mudik yang rela menguras tenaga, waktu juga isi kantong menjadi simbol bahwa sejauh mana kita mengembara (perantauan/urban), pada satu titik dan kebetulan mengambil momentum Syawal harus wajib kembali ke "akar". Akar yang gemanya tak berhenti memanggil untuk terus disirami. Tanpa akar kehidupan menjadi goyah gulana dan kebingungan arah menjadi limbung dan tidak menentu tujuan.


Di depan pusara, arwah leluhur dan handai taulan dikenang sekaligus kematian direnungkan. Kematian yang setiap saat akan tiba, kepastian mudik ke kampung akhirat. Apa boleh buat, setiap kita akan tunduk menjajal ke tempat yang sangat jauh, alam barzakh, meskipun kita tidak senang dan selalu enggan. 


Kematian sebagai keniscayaan. Martin Haidegger (1889-1976) mengatakan bahwa kematian sebagai proses mengada, kematian bukan hanya bertalian dengan masa depan yang gaib. Namun justru terlibat intens dalam sejarah keseharian, kematian sebagai pemantik kehidupan.


Lalu dalam tafsir Nietzsche (1844-1900) sebagaimana dikutip Fuad Hassan (1992), "Kematian kupujikan, maut yang bebas dan datang padaku oleh karena aku yang menghendakinya. Bebas untuk mati dan bebas dalam maut. Mampu berkata tidak dengan ikhlas bilamana saat berkata ya telah lewat". 


Kematian, meminjam Karl Jaspers, bukan sekedar limit akhir batas kehidupan yang tragis, traumatis, dan dramatis. Tapi menjadi kesempatan untuk menyempurnakan eksistensi manusia, menciptakan kehidupan yang lebih manusiawi sekaligus mengerem nafsu egoisme yang menghancurkan.


Pulang kampung (mudik) menjadi tempat paling senyap juga paling tepat untuk kita melakukan tafakur. Ketika kita di pusara leluhur dan handai taulan, Tuhan menjadi semakin dekat. Di pusara tidak ada toa dan tidak ada juga pekik kepentingan politik. Yang ada hanya doa. 


Tentang tuhan, toa, dan doa. Saya teringat humor tiga orang manusia ruhani; Ibu Gedong, Romo Mangun, dan KH Abdurrahman Wahid. Kata Ibu Gedong, "Jelaslah Hindu yang paling dekat dengan Tuhan. Setiap hari berdoa, O(h)m Shanti Shanti. Hubungan antara paman dan keponakan.


Romo Mangun tidak mau kalah, "Justru umat Kristiani yang paling dekat. Kami berdoa, 'Bapak kami yang di surga...' Tak ada yang lebih dekat ketimbang hubungan antara bapak dan anak".


Keduanya kemudian menoleh ke arah Gus Dur, "Sebagai umat Islam, tentu juga mengklaim yang paling dekat dengan tuhan, ya Gus?" Gus Dur sambil nyengir menjawab, "Hah, dekat? Manggil saja pakai toa!".

Komentar

Postingan Populer